SALAMAKKI

SALAMAKKI

BERANDA

Senin, 25 April 2011

es pisang ijo

Ini adalah hidangan khas dari Ujung Pandang, hidangan ini paling enak jika dinikmati pada saat cuaca panas. Es pisang ijo terbuat dari pisang raja atau kepok, dibungkus dengan tepung terigu yang sudah diberi santan dan air daun pandan atau pasta pandan sebagai pewarna dan pengharum sehingga berwarna hijau, disajikan dengan saus yang diberi es serut, kacang goreng/sangrai yang ditumbuk kasar  dan sirup. Jadi kata ijo itu bukan menunjukkan bahwa jajanan ini terbuat dari pisang hijau tetapi dari tepung pembungkusnya yang berwarna hijau dari daun pandan.
»»  LANJUT BOS......

es pallubutung

Es Pallu Butung adalah makanan penutup sangat populer dari Makassar, Sulawesi Selatan. Es ini biasa tersaji di warung-warung atau rumah makan yang menu utamanya Coto Makassar, karena memang dua hidangan berasal dari daerah yang sama. Apalagi kalau Bulan Ramadhan, mungkin ini makanan terlaris di Kota daeng. Paduan Pisang Raja dan Kuah putih yang mantap,  anda harus merasakan sensasi kuliner yang satu ini. Harga per porsi biasanya Rp 5.000-an.
»»  LANJUT BOS......

sop saudara

Satu lagi makanan unik yang dapat ditemui di Kota Makassar, namanya Sop Saudara. Anda dapat menemui tempat makanan yang menyajikan kuliner ini di Jalan Andalas, persis di samping Masjid Raya Agung Makassar yang dibangun oleh keluarga Jusuf Kalla.
Tetapi kalau yang betul-betul asli carilah hidangan Sop Saudara dari daerah Pangkep. Dijamin Ma'nyuss. Sop Saudara merupakan masakan khas daerah yang berupa sop berkuah dengan bahan-bahan dasar seperti daging sapi/kerbau yang dimasak dengan aneka bumbu dan disajikan bersama nasi putih atau ketupat dengan Ikan Bakar sebagai tambahan lauknya.
Satu Porsi sekitar Rp 10.000 - Rp 15.000 an
»»  LANJUT BOS......

sop konro

Masakan khas daerah Makassar, selain Coto adalah Sop Konro. Makanan ini disajikan dalam dua bentuk, yaitu sop berkuah maupun dibakar dengan bahan-bahan dasar seperti tulang rusuk sapi atau kerbau, dimasak/dibakar dengan bumbu ketumbar, jintan, sereh, kaloa, bawang merah, bawang putih, garam, vitsin yang sudah dihaluskan. Sop Konro pada umumnya disajikan/dimakan bersama nasi putih dan sambal. Rasanya sangat Khas dengan bumbu yang sangat terasa. Kisaran harganya Rp 10.000 - an. Saran tempat yang paling enak adalah Konro Jalan Singa yang pernah masuk SCTV.
»»  LANJUT BOS......

coto makassar


Coto Makassar atau Coto Mangkasara adalah makanan tradisional Makassar, Sulawesi Selatan. Makanan ini terbuat dari jeroan (isi perut) sapi  yang direbus dalam waktu yang lama. Rebusan jeroan bercampur daging sapi ini kemudian diiris-iris lalu dibumbui dengan bumbu yang diracik secara khusus. Coto dihidangkan dalam mangkuk dan dimakan dengan ketupat dan “burasa”. Saat ini Coto Mangkasara sudah menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, mulai di warung pinggir jalan hingga restoran. Sangat mudah mendapatkan pa'balu Coto (Penjual Coto) di Makassar, kisaran harganya pun lumayan murah sekitar Rp 5.000 - an. Sekedar saran kalau ingin menjajal Coto yang paling enak di Kota Daeng adalah Warung Coto Daeng, Warung Coto Paraikatte Jalan Pettarani, dan Warung Coto Jalan Gagak. Direncanakan Coto Makassar akan menjadi salah satu menu pada penerbangan domestik Garuda Indonesia dari dan ke Makassar.
»»  LANJUT BOS......

wisata kota makassar

Makassar merupakan salah satu kota pelabuhan terbesar di Indonesia bagian Timur. Ujung Pandang dan daerah sekitamya juga terkenal memiliki pelaut ulung yaitu orang-orang Bugis yang ahli membuat kapal laut. Pelabuhan Paotere yang berada di Utara Ujung Pandang merupakan kawasan pelabuhan kapal tradisional, dan kapal layar Bugis yang terkenal itu dapat ditemui di tempat ini.
Benteng peninggalan kolonial Fort Rotterdam dan sejumlah bangunan peninggalan kolonial lainnya seperti rumah kediaman gubernur menjadi bukti sejarah keberadaan Belanda di kota ini. Ujung Pandang merupakan tempat perisitirahatan terakhir dua pahlawan besar Indonesia; Sultan Hasanuddin dan Pangeran Diponegoro dari Jawa yang diasingkan Belanda di kota ini.
Benteng Rotterdam atau Fort Rotterdam merupakan salah satu bangunan peninggalan kolonial yang paling terawat di Indonesia. Benteng ini menjadi salah satu contoh terbaik dari arsitektur bangunan peninggalan Belanda yang ada di Indonesia. Sebelum Fort Rotterdam dibangun, di tempat ini terdapat benteng milik kerajaan Gowa yang dibangun pada sekitar tahun 1545 tapi kemudian dihancurkan Belanda ketika menyerang dan menduduki daerah ini.
Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani pada tahun 1667, Belanda kemudian membangun benteng baru di lokasi yang sama yang kemudian dikenal dengan nama Fort Rotterdam. Di dalam bangunan benteng ini terdapat Museum Negeri La Goa yang memiliki koleksi antara lain peralatan makan dan memasak dari Tana Toraja, instrumen musik dan berbagai macam kostum pakaian adat.
Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta memimpin Perang melawan pemerintah kolonial Belada selama lima tahun (1825-1830). Perjuangan Diponegoro berakhir karena ditipu Belanda. Diponegoro diundang ke markas tentara Belanda untuk melakukan perundingan perdamaian. la tanpa curiga memenuhi undangan itu namun ternyata ia malah ditangkap dan kemudian dibuang ke Makassar. Diponegoro menjalani masa penahanan dalam pengasingan selama 26 tahun di Fort Rotterdam. Makam Diponegoro dan sebuah monurnen untuk mengenang pahlawan yang gagah berani ini terdapat di Jl. Diponegoro, Makassar.
Monumen Mandala di Jl. Jend. Sudirman merupakan menara yang menjadi salah satu ciri kota Makassar yang sebelumnya juga dengan nama Ujung Pandang. Selain itu bangunan vihara banyak terdapat di kota ini khususnya di Jl.Sulawesi karena masyarakat keturunan Cina banyak tinggal di Makassar.
Sisa-sisa Kerajaan Gowa masih dapat ditemui di kawasan pinggiran, di tenggara Ujung Pandang di mana terdapat Makam Sultan Hasanuddin, salah seorang raja Gowa yang hidup antara tahun 1629-1670. Di luar kompleks makam terdapat Batu Pelantikan yang merupakan tempat raja-raja Gowa dilantik sebagai raja dan diberi mahkota kerajaan. Tidak jauh dari pemakaman terdapat Mesjid Katangka yang juga memiliki kompleks makam di bawah tanah di mana di dalamnya terdapat beberapa kuburan.
Beberapa kilometer ke arah Selatan di Sungguminasa terdapat Museum Balla Lompa yang dulunya adalah istana Sultan Gowa. Istana ini berupa bangunan kayu dengan gaya arsitektur Bugis. Museum memiliki koleksi yang hampir sama dengan museum yang terdapat di Fort Rotterdam.
Pulau kecil yang terletak di lepas pantai Ujung Pandang ini ramai dikunjungi wisatawan pada hari libur. Kegiatan yang banyak dilakukan wisatawan di pulau ini adalah memancing dan snorkeling. Di pulau ini tersedia beberapa penginapan kecil yang juga menyediakan fasilitas makan. Untuk menuju ke pulau ini wisatawan dapat menyewa speed boat dari Makassar.
Pulau Kayangan terletak sekitar empat mil laut atau sekitar 15 menit dengan menggunakan speed boat dari Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta, Makassar. Pulau Kayangan adalah sebuah pulau kecil berpasir putih seluas satu hektar. Lokasi wisata ini sudah dilengkapi Fasilitas antara lain pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna dan anjungan untuk memancing. Di Lokasi ini juga terdapat akuarium yang menampung beragam jenis ikan hias air laut.
»»  LANJUT BOS......

wisata kabupaten pinrang

Kabupaten  Pinrang dikenal sebagai salah satu "Lumbung Pangan" di Sulawesi Selatan sekaligus penghasil udang, ikan bandeng, kakao, kopi, kemiri dan kelapa. Sebagai daerah pertanian yang memiliki sumber daya a/am yar. cukup, Pinrang juga memilik! kekayaan laut yang membentang sekitar 9-:. km dari kota Parepare sampai ke Polmas. Luas vsiiayah Kabupaten Pinrany 1.961,77 km1 dengan jaraktempuh dari Kota Makassar sepanjang 173km.
Berbatas wilayah dengan Tana Toraja, Kola Parepare, Kabupaten Enrekang dan Kabupaten Sidrap serta di sebelah Barat dengan Selat Makassar dan Kabupaten Polmas. Obyek wisata alamnya yang terdiri dari sejumlah pantai dan air terjun menjadi andalan.
Pulau Kamarrang di Kelurahan Ujung Labuang dapat ditempuh dari Ujung Lero sekitar 30 menit menggunakan perahu motor. Gugusan yang menyembul dari laut ini mempunyai luas 7 hektar didominasi oleh vegetasi hutan pantai termasuk hutan bakau yang mengitari pulau-pulau bagian Barat dan Utara. Sementara pada bagian Timur terdapat pantai berbatu keras yang tahan hantaman ombak. Pada bagian tengah pulau terdapat pohon-pohon tua yang digelantungi oleh ratusan kelelawar.
Terdapat sebuah makam tua di pulau ini dan dikeramatkan oleh para peziarah untuk menyatakan dan melepas nazar bila keinginannya dikabulkan. Terdapat sebuah villa di pulau ini yang digunakan wisatawan untuk beristirahat.
Pantai Kappe memiliki pesona laut yang sangat indah dan bersih. Terletak di Desa Data. Kecamatan Duampanua. Panorama lautnya yang terhampar luas sejauh mata memandang dan di bagian Utara tampak di kejauhan gunung-gunung yang menjulang diantara rimbunnya pepohonan hutan. Di pantai ini bisa melakukan aktivitas berenang dan olahraga pantai lainnya.
Pantai lainnya terletak di Desa Wae Tuwo disebut pula sebagai Pantai Wae Tuwo sekitar 17 km dari kota Pinrang. Membentang sepanjang 4 Km, pantai ini di bagian Utaranya cocok untuk menikmati matahari terbenam (sunset) di sore hari dan asyik untuk aktivitas berperahu mengelilingi pantai.
Dua buah air terjun terdapat pula di Kabupaten Pinrang yaitu Air Terjun Karawa di Kelurahan Betteng. Kawasan air terjun dengan ketinggian 60 meter ini di bawahnya terdapat kolam-kolam alami dan bebatuan untuk beristirahat Dari kolam alami ini, air mengalir melalui batu-batu gunung dan menciptakan air terjun kecil sehingga seolah bersusun-susun.
Air terjun lainnya masih di kelurahan yang sama sekitar 20 km dari kota Pinrang disebut Air Terjun Kalijodoh. Berada di kawasan seluas 2 hektar dan mempunyai empat sumber air. Panorama alam pegunungannya membuat tempat ini terasa sejuk dan nyaman sehingga menjadi tempat memadu kasih dan diyakini mereka yang datang berpasangan bisa berjodoh. Tak heran bila hari libur banyak dikunjungi wisatawan lokal setempat.
Pemandian air panas terdapat di Kelurahan Maminasse pada jalan poros Pinrang-Sidrap. Ada dua sumber air yang mendukung tempat ini yaitu sumber air panas dan sumber air dingin. Di lokasi ini telah dibangun kolam renang yang sumber airnya dari kedua mata air tersebut. Pemandian Air Panas Sulili ini sudah dilengkapi berbagai fasilitas lainnya termasuk pondok wisata sehingga banyak dikunjungi wisatawan domestik.
Pemandian air panas lainnya terdapat di Kelurahan yang sama menuju arah PLTU Bakaru, sekitar 12 km dari Pinrang. Pemandian Air Panas Lemosusu ini memiliki panorama alam yang ini meski fasilitasnya masih untuk mandi maupun berenda
»»  LANJUT BOS......

lawa' bale khas bugis

Lawa’ Bale, mungkin bagi sebagian orang kedengarannya masih asing. Lawa Bale adalah sejenis makanan khas bugis yang berbahan pokok ikan segar mentah.
Bale artinya Ikan dalam bahasa indonesia.
Dimakan dalam keadaan mentah seperti halnya sushi dari Negeri Jepang. Makanan ini dapat kita jumpai di daerah Bugis, salah satunya di kabupaten Bone.


Lawa Bale ini terdiri dari ikan mentah yang sudah dibersihkan dan dipisahkan dari tulang dan kepalanya. Kemudian dicampur dengan parutan kelapa yang sudah di olah. Dan diberi garam serta tetesan jeruk nipis atau cuka sebagai penetrasi rasa ikannya. Dapat pula ditambahkan sedikit bawang goreng untuk menambah aroma. Ini hanya sebagian dari cara pembuatan Lawa’ Bale yang sering dikomsumsi oleh sebagian besar masyarakat suku Bugis.


Makanan yang khas dan spesial ini tidak banyak dijumpai di daerah lain. Jadi, untuk menikmatinya, jalan jalan yuk ke Sulawesi selatan. Sembari menikmati berbagai makanan khas Sulawesi Selatan termasuk Lawa’ Bale ini. Saya sendiri yang sekarang sedang merantau sangat merindukan cita rasa dari makanan ini. Dikala saya kembali ke kampung halaman, saya (orang Bugis) dan istri (orang jawa sunda), langsung mencari cari yang namanya Lawa’ Bale.


Jadi, Sebagai orang Indonesia pada umumnya dan orang Bugis pada khususnya, Kami merasa tidak kalah dengan makanan jepang yang ada sushinya. Toh di indonesia juga ada Lawa’ Bale yang sama sama dari ikan mentah. hehehe…. Banggaaaa…..


Ini adalah salah satu kekayaan kuliner di negeri kita yang harus dijaga kelestariannya. Meskipun tradisional, namun tetap memiliki cita rasa tinggi.


Selamat menikmati Lawa’ Balenya….
»»  LANJUT BOS......

Bandeng Pedas Segar Khas Makassar



Makassar tidak hanya dikenal dengan elok ragam budaya. Daerah yang dulunya bernama Ujung Pandang ini juga menyimpan ragam kuliner nan nikmat. Pasti anda pernah mendengar nama-nama seperti Coto Makassar, ikan Pallumarra, nasi goreng merah hingga es Pullu Butung. Bagi anda penikmat kuliner sejati pasti tahu nama-nama itu.

Untuk menikmati ragam menu khas Makssar, tak usah jauh-jauh ke Makassar. Di Jakarta pun banyak resto khusus yang menyajikan kuliner khas kota. Salah satunya, Rumah Makan Pelangi Seafood yang beralamat di jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat. Resto ini termasuk salah satu dari sekian banyak resto yang menjadi tongkrongan wajib perantau asal Sulawesi Selatan.

Saat memasuki restoran itu, sepintas tak tampak beragam ornamen yang memberi nuansa kental Makassar. Anda mungkin sedikit bingung. Namun, jangan salah, coba perhatikan dengan lagi dengan seksama. Benar saja. Tak lama, seseorang berlogat khas Makassar. Hal itu merupakan salah satu bentuk keunikan tersendiri. Bagi Anda yang mungkin bukan asli bugis agak sedikit takjub dengan cengkok berbeda walau berbahasa Indonesia sekalipun.

Keunikan lain, walau sebagian besar menu merupakan kuliner asli Makassar tapi resto ini juga menyajikan Chinese Food. Maka tak heran bila resto ini diberi nama Pelangi Seafood. Usai asyik menikmati tampilan interior, kini giliran mencicipi menu jagoan resto ini.

Menurut sang pemilik, Vincent, ada dua menu yang menjadi andalan resto Pelangi Sea Food yaitu Ikan Pallumarra dan Nasi Goreng Merah. "Memang kedua menu itu, selalu dipesan. Dari beberapa pengunjung yang saya tanya kebanyakan mereka memesan kedua menu tersebut dengan pertimbangan mengobati rasa rindu dengan masakan kampung halaman," tutur Vincet kepada Republika Online, pekan lalu.

Nasi goreng merah pada dasarnya sama seperti nasi goreng biasa, warna merah pada nasi bukan karena pedas tapi karena saos tomat, dengan toping hati ayam yang sudah digoreng namun diiris kecil-kecil, baso ikan dan rempah-rempah sebagai penyedap rasa.

Warna merah ini merupakan khas daerah Makassar. Cara menikmatinya dengan dibarengi sambel kacang yang encer tetapi pedas. Aroma rempah begitu terasa dilidah. Namun, penikmat kuliner mesti berhati-hati karena rentan tersedak bila belum terbiasa mengkonsumsinya.

Tampilan nasi goreng tak berbeda dengan sajian nasi goreng biasa. Sajian dihiasi dadar telur tepat diatasnya. Keistimewaan dari nasi goreng ini adalah menimbulkan kesan nagih. Sendokan pertama nasi goreng menimbulkan kesan tidak ingin berhenti menikmatinya.

Menu kedua yang wajib anda cicipi adalah ikan Palumarra. Menu berbahan dasar bandeng, rempah-rempah dan tak ketinggalan cabe rawit ini menambah seru pengalaman kuliner bernuansa pedas. Dari tampilan saja cukup menantang, bagaimana tidak sejumlah cabai rawit berukuran besar mengambang ditengah kepungan ikan-ikan bandeng yang sudah masak.

Cara menyajikannya pun cukup unik, menu diletakan dalam sebuah wadah besar seperti khas resto bernuansa tiongkok. Penyajian macam ini memudahkan penikmat kuliner untuk meyantap habis menu ini.

Rasanya, aroma rempah yang terbawa dari kuah menu sudah memberi tanda sajian ini sangat pedas. Kesan amis tidak begitu kentara. Daging ikannya pun sangat empuk. Disarankan bagi yang tidak suka pedas, sebaiknya Anda hanya menikmati ikan bandengnya saja.

Usai, menikmati menu pedas-pedas. Tak salah bila anda memesan es Pallu Butung. Es ini menjamin membuat lidah anda merdeka daro rasa pedas. Karena sajian pisang kepok, tepung beras dan sagu serta ditambahkan es bisa meredam pedas.

Bahan Baku
Sesuai dengan sajiannya yang bernuansa Makassar, Vincent sengaja mendatangkan langsung bahan-bahan utama menu dari Makkasar. Dengan alasan sulit diperoleh di Jakarta, Vincent tidak bisa menyajikan menu dengan asal-asalan."Mereka tahu mana yang asli atau bukan. Sebab itu, saya coba sajikan seasli mungkin,"ujarnya.

Diakui Vincent, kebanyakan pelanggan restonya adalah perantau asal Makassar. Sebabnya, resto ini menjadi ajang nostalgia. Apalagi menjelang akhir pekan, suasana resto tampak ramai dipenuhi pelanggannya.

Tak hanya menyajikan kuliner nan nikmat, resto ini tahu benar kebutuhan pelanggannya. Usai menikmati kuliner, para pelanggan bisa meluangkan waktu sejenak guna merapikah rambut di salon yang berada diatasnya.

Untuk menikmati sajian khas Makassar anda tak perlu khawatir dengan banderol harga selangit. Karena resto Pelangi Seafood menjamin setiap sajian berada pada rentang harga 20 ribu hingga 50 ribu rupiah. Jika Anda penasaran, silakan mencoba.
»»  LANJUT BOS......

Sabtu, 23 April 2011

nimbuzzer sulsel community

 NIMBUZZER FAMILY SIDRAP ( NFS )


 NIMBUZZER PALOPO COMMUNITY ( NPC)


 NIMBUZZER MAKASSAR COMMUNITY (NMC)


NIMBUZZER FAMILY SOROWAKO ( NFS )
»»  LANJUT BOS......

profil NFS sidrap



NIMBUZZ FAMILY SIDRAP
Merupakan Komunitas Chatters Nimbuzz di SIDRAP SUL-SEL yang bertujuan untuk menjalin persahabatan baik dalam kehidupan Dunia Maya maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Berdiri   : Pada tanggal 10 September 2009      
Anggota : lebih dari 200 tetapi yang aktif (sering berkumpul) sekitar 20 orang dikarenakan banyak anggota yang berada/ bekerja  di Luar Kota/ Negeri.

Room Nimbuzz : bone_soppeng_wajo_sinjai_makassar_maros@conference.nimbuzz.com
Forum : http://nimbuzzfamilysidrap.blogspot.com/
Visi :
  1. Sebagai wadah nimbuzzer dalam berbagi informasi mengenai dunia chating
  2. Sebagai sarana untuk menggalang persahabatan tidak hanya di antar nimbuzzer SIDRAP tapi juga nimbuzzer sejagad raya.
  3. Sebagai ajang kreativitas nimbuzzer dalam hal apa saja dimana kreativitas tersebut bisa bermanfaat bagi para nimbuzzer khususnya dan umumnya untuk orang banyak...
Misi :
  1. Mengadakan Petemuan rutin tiap malam Minggu akhir bulan
  2. Mengadakan Kopdar dalam 2 bln sekali
  3. Memperbanyak anggota
»»  LANJUT BOS......

anggota NFS sidrap

 ahmad_nurse@nimbuzz.com

 armyl@nimbuzz.com

**sembayuw**@nimbuzz.com
diyant_adja@nimbuzz.com


 ~ismail~@nimbuzz.com





dhedy_alozzha@nimbuzz.com


citra_wer@nimbuzz.com
»»  LANJUT BOS......

Sabtu, 09 April 2011

Sejarah Nimbuzz

image
Nimbuzz pertama kali ditemukan pada tahun 2006 oleh Evert-Jaap Lugt dan Martin Smink, dan baru resmi diluncurkan pada bulan Mei 2008. Saat ini, Evert Jaap Lugt memegang jabatan sebagai CEO pada perusahaan tersebut. Nimbuzz bermarkas di Rotterdam, Belanda, tepatnya di 301 Rivium Boulevard, Capelle a/d IJssel, 2909 LK Netherlands. Selain di Belanda, Nimbuzz juga memiliki beberapa kantor di Argentina dan Brazil. Nama Nimbuzz sendiri memiliki arti "halo" atau "awan bersinar yang mengelilingi sang dewa saat turun ke bumi". Filosofi nama ini sangat sesuai dengan visi Nimbuzz mengenai "mobile freedom". Nimbuzz percaya pada kebebasan, ekspresi dan harapan bahwa teknologi yang mereka bawa ini bisa membuat dunia menjadi semakin kecil, dekat, dan menjadi tempat yang lebih baik dengan mendukung komunitas internasional, kesadaran akan kebudayaan dan saling pengertian. Perusahaan ini menerima venture capital /VC (modal ventura) dan strategic funding oleh Mangrove Capital Partners (Skype), Naspers/MIH (Tencent, Mail.ru, Gadu-Gadu, Mweb, Sanook, Tradus) dan Holtzbrinck Ventures (Kyter, StudiVZ). Hingga Oktober 2010, Nimbuzz telah diunduh sebanyak 150,000,000 kali dan 3,650,000,000 menit panggilan suara telah diadakan melalui Nimbuzz. Pada Nokia Ovi Store, Nimbuzz telah diunduh sebanyak 5 juta kali. Bahkan Nimbuzz sudah diunduh lebih dari 45 juta orang melalui GetJar (application store terbesar kedua di dunia). Komunitas Nimbuzz sendiri terdiri atas 30 juta anggota dan setiap harinya sekitar 70,000 anggota baru bergabung dengan komunitas ini.

Nimbuzz merupakan mobile social messenger yang mengkombinasikan instant messaging (IM), (geo) , dan VoIP (Voice over Internet Protocol) dari banyak komunitas populer seperti Skype, Windows Live Messenger (MSN), Yahoo! Messenger, ICQ, Google Talk, AIM, serta jaringan sosial termasuk Facebook dan MySpace. Aplikasi Nimbuzz dapat diunduh gratis pada websitenya. Aplikasi ini menggabungkan semua daftar teman yang berada di domain yang berbeda seperti di Skype, MSN, Yahoo, ICQ, AIM, Google Talk, dan lainnya sehingga para penggunanya pun bisa chat dengan semua temannya dengan satu kali log in. Situs jejaring dan komunitas sosial yang didukung oleh Nimbuzz adalah Skype, Windows Live Messenger (MSN), Google Talk, Twitter, Facebook, Yahoo!, AIM, MySpace, ICQ, GaduGadu, Hyves, StudiVZ, Giovani dan lainnya. Selain itu, Nimbuzz juga mendukung jaringan-jaringan Instant Messaging sebagai berikut: Skype, Google Talk, AOL, Instant Messenger, Windows Live Messenger, Yahoo! Messenger, MySpace, Facebook dan Jabber.
»»  LANJUT BOS......

Kue Bugis Bolu Peca’


Kue bolu adalah kue yang sudah sangat familiar di Indonesia. Berdasarkan bahan, kue bolu sangat banyak jenisnya, mulai dari bolu coklat, bolu keju, bolu pisang, bolu karamel, bolu ketan hitam dan lain-lain. Nah, disini kami akan berikan resep kue bolu ketan hitam. Karena ini adalah Kampung Bugis, maka tentu saja resep kue bolu ketan hitam yang akan kami bagikan adalah yang versi bugisnya, yang disebut bolu peca’ atau baulu peca’. Disebut bolu peca’ karena bolu yang ini renyah setelah direndam dengan cairan gula merah. Silahkan disimak resepnya :
Bahan-bahan
  • 5 butir telur bebek
  • 5 sendok makan tepung ketan yang sudah di sangrai
  • 1/2 kg gula merah ( gula jawa )
  • 200 cc air
  • soda kue secukupnya..
Cara membuat
Gula dimasak dengan air sampai encer, telur dan soda kue di kocok sampai mengebang, masukkan ke cetakan segi empat ukuran 15×20 cm, kemudian dikukus hingga matang.
Setelah matang, iris menjadi 20 irisan tipis, kemudian rendan dlm cairan gula merah, lalu tiriskan. Cairan gula dimasak kembali hingga kental kemudian di tuang kebolu..
Siap di hidangkan…
»»  LANJUT BOS......

Kue Nagasari / Bandang-bandang

Bandang-bandang, begitu anda ketik keyword ini di google maka yang muncul adalah berita-berita atau gambar-gambar mengenai banjir bandang. Tapi di Tanah Bugis ada satu kue khas yang bernama bandang. Kue bandang ada dua jenis yaitu bandang lojo (kue bandang tanpa pembungkus yang ditaburi kelapa) dan bandang-bandang, yang ini dibungkus daun pisang dan berbahan dasar pisang juga. Tapi kali ini yang akan dibahas adalah resep kue bugis bandang-bandang yang merupakan kue basah, kalau di Indonesia umumnya lebih dikenal dengan kue nagasari.
Untuk membuatnya cukup mudah.
Bahan :
  • 4 liter tepung beras baru
  • 3 gelas gula pasir
  • 4 sendok makan Garam
  • 12 sendok makan kanji
  • 3 liter santan
  • Pisang secukupnya (Potong 1 buah pisang menjadi 4 bagian)
  • Daun Pisang untuk membungkus
Cara membuat :
  • Ambil 1 liter santan. campur dengan tepung, Ulek sampai halus
  • Tambahkan kanji lalu ulek lagi sampai rata
  • Didihkan 2 liter santan lalu masukkan gula pasir dan adonan tepung tadi.
  • Aduk sampai kental, Angkat
  • Ambil 1 sendok adonan, ratakan diatas daun pembungkus lalu isi dengan pisang.
  • Bungkus lalu kukus sampai masak.
Siap untuk disajikan
»»  LANJUT BOS......

Kue Barongko atau Buronggo Khas Bugis

Barongko atau Buronggo adalah salah satu penganan khas asli Bugis. Barongko sangat mudah dijumpai dalam acara-acara adat, acara perjamuan dan kegiatan-kegiatan lain di daerah Bugis, seperti misalnya acara pengantin, Mappanre Temme (khatam Qur’an), sunatan, pengajian dan lain-lain. Biasanya kue Barongko yang juga kadang disebut Buronggo disajikan sebagai makanan penutup setelah makanan pokok. Penganan ini berbahan dasar pisang kepok matang yang dikukus dengan daun pisang.
Barongko
Untuk membuat Barongko atau Buronggo, berikut ini resepnya :
Resep Masakan Barongko/Buronggo
Bahan:
  1. 8 buah pisang kapok matang
  2. 2 butir telur, kocok lepas
  3. 50 gram gula pasir
  4. ¼ sendok teh garam
  5. ¼ sendok teh vanili bubuk
  6. 100 ml santan dari ¼ butir kelapa
  7. Daun pisang untuk membungkus
Cara Membuat Kue Barongko :
  1. Kupas pisang, potong-potong, haluskan
  2. Tambahkan telur, gula pasir, garam, vanili, santan. Aduk hingga rata
  3. Ambil selembar daun pisang, masukkan 2 sendok makan adonan. Bungkus bentuk tum.
  4. Kukus 30 menit hingga matang
Hasil kurang lebih 15 porsi/bungkus
»»  LANJUT BOS......

Acara Adat Tujuh Bulanan Ala Bugis Bone

Upacara tujuh bulan kehamilan, dalam bahasa Bugis Bone disebut Mappassili, artinya memandikan. Makna upacara ini adalah untuk tolak bala atau menghindari dari malapetaka/bencana, menjauhkan dari roh-roh jahat sehingga segala kesialan hilang dan lenyap. Acara itu diawali dengan iring-iringan pasangan muda tersebut, dalam pakaian adat Bugis menuju sebuah rumah-rumahan yang terbuat dari bambu dengan hiasan bunga dan pelaminan yang meriah oleh warna-warna yang mencolok. Sebelumnya, calon ibu yang hamil tujuh bulan dari pasangan muda ini harus melewati sebuah anyaman bambu yang disebut Sapana yang terdiri dari tujuh anak tangga, memberi makna agar rezeki anak yang dilahirkan bisa naik terus seperti langkah kaki menaiki tangga. Upacara Mappassili diawali dengan membacakan doa-doa yang diakhiri oleh surat Al-Fatihah oleh seorang ustadzah. Bunyi tabuh-tabuhan dari kuningan yang dipegang oleh seorang bocah laki-laki mengiringi terus upacara ini.
Selanjutnya upacara ini dipimpin oleh seorang dukun. Ia mengambil tempat pembakaran dupa dan diputar-putarkan di atas kepala sang ibu. Asap dupa yang keluar, diusap-usapkan di rambut calon ibu tersebut. Perbuatan ini memberi makna untuk mengusir roh-roh jahat yang bisa mengganggu kelahiran bayi. Menurut kepercayaan mereka, roh jahat itu terbang bersama asap dupa.
Kalau dalam adat Jawa, upaca nujuh bulan dilakukan dengan menyiram tubuh calon ibu, namun di Mappassili hanya memercikkan air dengan beberapa helai daun ke bagian tubuh tertentu, mulai dari atas kepala, bahu, lalu turun ke perut. Bahu menyimbolkan agar anak punya tanggung jawab yang besar dalam kehidupannya. Demikian pula tata cara percikan air dari atas kepala turun ke perut, tak lain agar anaknya nanti bisa meluncur seperti air, mudah dilahirkan dan kehidupannya lancar bagai air.
Usai dimandikan, dilanjutkan dengan upacara makarawa babua yang berarti memegang atau mengelus perut. Pernik-pernik pelengkap upacara ini lebih meriah lagi ditambah lagi dengan beraneka macam panganan yang masing-masing memiliki symbol tertentu.
Calon ibu yang telah berganti pakaian adat Bone berwarna merah ditidurkan di tempat pelaminan. Sang dukun akan mengelus perut calon ibu tersebut dan membacakan doa. Selanjutnya daun sirih yang ditaburi beras diletakkan di kaki, perut, kening kepala calon ibu dimaksudkan agar pikiran ibu tetap tenang, tidak stress. Diletakkan di bagian kaki sebagai harapan agar anak melangkahkan kakinya yang benar. Sementara beras sebagai perlambang agar anak tak kekurangan pangan. Seekor ayam jago sengaja diletakkan di bawah kaki calon ibu. Bila ternyata ayam tersebut malas mematuk beras, menurut mereka ini pertanda anak yang akan lahir perempuan.
Tahap akhir upacara tujuh bulan Bugis Bone ini adalah suap-suapan yang dilakukan oleh dukun, pasangan tersebut (sebagai calon bapak dan ibu) dan orang tua keduanya.
Acara ditutup dengan rebutan hiasan anyaman berbentuk ikan dan berisi telur bagi ibu-ibu yang memiliki anak gadis atau yang sudah menikah. Ini sebagai perlambang agar anak-anaknya segera mendapat jodoh yang baik, dan nantinya melahirkan dengan mudah.
»»  LANJUT BOS......

Komunitas Adat Towani Tolotang di Kabupaten Sidrap

Mungkin sobat-sobat pembaca khususnya yang berasal dari Sulawesi Selatan pernah mendengar tentang komunitas adat Towani Tolotang. Komunitas ini adalah sebuah kelompok masyarakat bugis yang punya kepercayaan dan ritual sendiri di luar lima agama yang diakui di Indonesia, walaupun pemerintah memasukkan kelompok ini dalam naungan Agama Hindu, tapi dalam kesehariannya ataupun dalam perayaan hari besarnya komunitas ini punya ciri khas yaitu memakai kopiah hitam seperti layaknya orang Islam tetapi sebagian besar tidak memakai alas kaki.
Di Kelurahan Amparita lama, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan komunitas Towani Tolotang ini berkembang dan bermukim sejak ratusan tahun lalu. Komunitas ini, terjaga secara turun-temurun dan terus berkembang hingga sekarang ini. Bagi sebagian orang, ketika mendengar komunitas Tolotang disebut, mungkin akan berpikir tentang sebuah kampung pedalaman yang orang-orang di dalamnya begitu tertinggal layaknya pemukiman dan komunitas di pedalaman Papua. Namun itu sama sekali salah. Sebaliknya, komunitas ini berada di ibukota kecamatan.
Dari ibukota kabupaten, Pangkajene, Amparita hanya berjarak sekira 8 km. Jarak tempuh dengan kendaraan roda dua ataupun empat paling lama setengah jam. Sementara dari Kota Makassar, Amparita hanya berjarak 231 km. Tak ada ciri khusus yang begitu membedakan komunitas ini dengan masyarakat sekitar yang mayoritas suku Bugis. Bahkan, mereka juga tetap menegaskan identitas dirinya selaku orang Bugis. Hanya saja, mereka punya kepercayaan berbeda dari warga lain yang mayoritas beragama Islam.
Menurut sejarah yang berkembang kepercayaan ini  berasal dari Kabupaten Wajo. Towani itu nama sebuah kampung atau desa di Wajo. Yang membawa adalah Ipabbere, seorang perempuan. Ia meninggal ratusan tahun lalu dan dimakamkan di Perinyameng, sebuah daerah di sebelah barat Amparita. Makam Ipabbere inilah yang kemudian selalu dikunjungi dan ditempati untuk acara tahunan komunitas ini yang selalu ramai. Acara adat tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Januari itu juga merupakan pesan dari Ipabbere. Ipabbare berpesan ke anak cucunya bahwa jika kelak ia meninggal, kuburnya harus diziarahi sekali setahun. Makanya, seluruh warga komunitas berdatangan dari segala penjuru, mulai dari Jakarta, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan hanya yang cacat dan anak-anak saja yang tak hadir setiap Januari itu.

Hari Raya Massempe Tolotang
Beberapa tahun lalu komunitas ini diakui oleh pemerintah sebagai aliran kepercayaan. Namun karena ada kebijakan pemerintah yang hanya mengakui lima agama di Indonesia, maka pada tahun 1996, pemerintah menawarkan tiga pilihan ke warga Tolotang untuk memilih antara Islam, Kristen atau Hindu. Aturan itulah yang akhirnya membuat komunitas Tolotang takluk. Mereka akhirnya harus menanggalkan aliran kepercayaannya yang sudah dianut sejak ratusan tahun dan memilih untuk bernaung di bawah Hindu. Namun adat istiadat sebagai komunitas Tolotang tetap terjaga. Sejak saat itu jika ada acara agama Hindu di luar Sulsel, seperti Jakarta dan Bali, mereka selalu diundang secara khusus. Tapi acara-cara ritual yang mereka lakukan sama sekali berbeda dengan agama Hindu, hal ini juga dapat dilihat ketika perayaan Hari Raya Nyepi Agama Hindu, tak ada kegiatan apa-apa di kalangan orang Tolotang.
Towani Tolotang resmi berafiliasi dengan Hindu pada tahun 1966 berdasarkan surat keputusan Dirjen Bimas Hindu nomor dua dan nomor enam tahun 1966. Mengapa memilih memeluk Hindu? Menurut mereka, alasannya sederhana. Di antara semua agama yang ditawarkan pemerintah, Hindu-lah yang punya kesamaan dan kemiripan, termasuk soal prinsip. Terkait sejarah komunitas ini yang berasal berasal dari Wajo. Komunitas ini ada di sana jauh sebelum Islam masuk. Waktunya sekira abad ke-16. Hanya saja saat itu tidak berkembang seperti sekarang. Namun karena sebuah proses sejarah, Tolotang kemudian harus berpindah. Masuknya Islam di Wajo rupanya tidak bisa memberi ruang yang bebas untuk berkembangnya bagi Tolotang. Makanya beralih ke Amparita. Itu sekira abad 17. Sejak itu, Tolotang berkembang dan diayomi pemerintahan Sidenreng. Terjadi hubungan yang baik antara warga Tolotang dengan warga komunitas lain. Hingga saat ini, di semua kecamatan di Sidrap anggota komunitas ini pasti ada.  KomunitasTolotang juga ada di Maritengngae, Tellu Limpoe, Wattangpulu, Sidenreng, Dua Pitue, serta Dua Pitue Lama. Hanya saja, basis utamanya memang di Tellu Limpoe. Tokoh adatnya juga banyak dan menyebar di seluruh kecamatan.
Rumah Tokoh Adat tak Punya Kursi. Bentuk rumah para pemangku adat Tolotang yang biasa dipanggil Wa’ (gelar ini merupakan sebutan tokoh generasi penerus dari pimpinan adat yang diberikan secara turun temurun) berarsitektur tempo dulu, dibawahnya terdapat beberapa balai-balai terbuat dari bambu yang diraut kecil-kecil. Setiap kali balai bambu rumah tokoh adat rusak, warga komunitas ini akan berkumpul dan bekerja bersama-sama untuk sekadar memperbaiki atau menggantinya. Mereka begitu teguh mempertahankan adatnya yang masih bersifat feodal. Rumah tokoh adat Tolotang sangat jauh beda dengan rumah warga lainnya, khususnya di luar komunitas ini. Satu hal yang paling tampak jelas membedakan adalah tiang rumah yang segi delapan dan bundar. Rumah adat punya ciri khusus. Namun bentuk ini tidak tertutup kemungkinan bisa diikuti warga biasa. Semuanya disesuaikan kemampuan. Bentuk tiang yang bulat itu punya makna khusus. Tiang bulat itu diibaratkan bahwa paham Tolotang ini kokoh terus, dan dipegang teguh. Tekad komunitas ini bulat dan kuat sepanjang masa.
Bukan hanya tiang dan arsitektur luar rumah yang beda dari rumah kebanyakan. Bagian dalam rumah juga demikian. Di rumah adat, jangan pernah berharap menemukan satu kursi pun. Sebab memang rumah adat tidak dibolehkan memiliki kursi. Kalau di rumah warga biasa komunitas ini, itu tidak diatur secara khusus. Mereka bisa saja memiliki kursi.  Rumah ini menjadi tempat suci selain makam leluhur di Perinyameng. Secara keseluruhan, jumlahnya di Amparita sekira 30-an rumah.
Selain di rumah tokoh adat dan pengabdian para warga komunitas Tolotang, acara-acara lain juga masih sangat kental dengan nuansa adatnya. Dalam hal penentuan hari H acara ziarah kuburan I Pabbere di Perinyameng, misalnya. Hari dan tanggalnya ditentukan berdasarkan hasil tudang sipulung (musyawarah) tokoh adat. Biasanya para tokoh adat disaksikan warganya berembuk menentukan hari baik. Saat hari H juga mereka punya acara adat, massempek (saling tendang, Bahasa Bugis). Dulu, massempek ini melibatkan orang dewasa. Namun karena pernah ada gesekan yang muncul dan ditakutkan muncul dendam, akhirnya orang dewasa diganti oleh anak SD.
Kemampuan komunitas Tolotang menjaga adatnya juga banyak menarik minat peneliti dari berbagai negara di dunia. Peneliti-peneliti dari Amerika, Jerman, Jepang, Kanada, serta Belanda, sudah sering ke Amparita untuk secara khusus mendalami komunitas ini. Mereka menanyakan budaya Tolotang dan adat istiadatnya. Rumah-rumah juga diteliti. Itu sejak tahun 70-an. Ada juga beberapa polisi dan mahasiswa yang ingin menyelesaikan program S1, S2, atau S3-nya yang datang meneliti di komunitas ini.
Sebelum abad ke-16, komunitas Towani Tolotang terus berkembang. Hingga kini, jumlah mereka secara keseluruhan,– termasuk di sejumlah provinsi di luar Sulsel, menghampiri 40 ribu orang. Namun sayangnya, hingga saat ini, mencari informasi dari sumber-sumber pada komunitas ini sendiri sangatlah sulit. Jangan pernah berharap bahwa warga kebanyakan komunitas ini akan melayani atau menjawab pertanyaan Anda soal komunitasnya. Sebab urusan komunitas ini, seluruhnya ada di tangan tokoh adat yang biasa disapa Wa atau Uwa. Untuk mencari tahu komunitas ini, harus melalui mulut seorang Wa. Tapi, informasi satu pintu itulah yang membuat komunitas ini tetap bertahan seperti sekarang. Langgengnya komunitas ini, juga ditopang prinsip yang mereka pegang secara turun temurun. Prinsip tersebut adalah tetteng (dalam bahasa Bugis: artinya konsisten).  Mereka tidak pernah berubah dan tidak terpengaruh dengan kondisi apa pun.
Sejak kecil, anak-anak komunitas ini, sudah diberi pemahaman dan pesan khusus soal Towani Tolotang. Para Wa-lah yang paling berperan untuk memberi pemahaman. Sebab, mereka memang mengambil peran selaku tokoh yang memberi pencerahan agama atau dalam Islam lazim disebut ustaz. Meski demikian, seiring perkembangan zaman, ada juga beberapa warga komunitas ini yang akhirnya berubah haluan. Mereka lebih memilih keluar dari komunitasnya dan memeluk Islam. Banyak yang bergeser masuk Islam, bahkan banyak yang sudah berhaji. Setelah berpindah agama, tidak ada lagi kewenangan mereka di Tolotang. Pernikahan juga menjadi salah satu pemicu adanya pergeseran ini. Dan komunitas ini memang cukup ketat  dalam masalah pernikahan, semua yang menikah di luar Tolotang, termasuk Islam, berarti sudah keluar. Mereka tidak diakui lagi.
Namun, adanya perpindahan agama itu tak membuat permusuhan. Sebab dari awal, warga Tolotang memang punya hubungan baik dan keakraban dengan masyarakat yang lainnya. Mereka selalu rukun dan damai. Sebab, di Amparita, Tolotang dengan masyarakat Islam memang rata-rata punya hubungan famili. Bahkan, orang Islam yang tidak punya hubungan famili dengan mereka hanya yang betul-betul datang dari luar Amparita. Saya sendiri (Ladewa) menikah dengan wanita Amparita yang juga memiliki beberapa family dari komunitas Tolotang. Mereka juga menegaskan bahwa komunitas Tolotang merupakan bagian dari etnis Bugis. hanya bedanya dalam hal kepercayaan saja. Bahasa yang mereka gunakan juga bahasa Bugis.
Soal sejumlah warga komunitas yang memilih meninggalkan Tolotang, kebanyakan mereka memilih keluar karena memeluk Islam. Mereka yang memeluk Islam ini, kemudian menamakan diri Tolotang Benteng.
Sebagai komunitas yang terbuka, memang tidak menutup kemungkinan ada warga mereka yang keluar dari Tolotang dan tidak pernah dipermasalahkan. Tapi sebaliknya, juga demikian. Ada juga penganut lain yang mau bergabung dengan Tolotang. Hanya memang, hal itu sangat sulit. Bahkan, bisa jadi tertutup. Sebab, prinsip mereka, Tolotang tidak berkembang dengan menerima orang lain tapi mereka berkembang berdasarkan anak cucu. Oh ya, sebagian besar dari orang-orang Tolotang ini berprofesi sebagai petani.
Mengenai munculnya Tolotang Benteng yang disebut-sebut merupakan Tolotang yang menganut Islam, para tokoh adat membenarkannya. Namun menurut mereka orang-orang ini tak lagi diakui. Tapi konon kabarnya, mereka juga punya Uwa. Tapi mereka tetap rukun dan tidak saling mengganggu.
Amparita, salah satu wilayah kecamatan di Kabupaten Sidrap, kini masih banyak warganya menganut kepecayaan Towani Tolotang. Sekitar 5000 warga di wilayah itu yang menganut kepercayaan yang sudah turun temurun. Ini merupakan penganut terbesar kedua setelah penganut Agama Islam yang jumlahnya lebih 200 ribu jiwa. Pemerintah Indonesia hanya mengakui lima agama, selebihnya dikategorikan sebagai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena penganut Tolotang tidak mau disebut sebagai aliran kepercayaan, mereka menggabungkan diri dengan Agama Hindu. Itulah sampai sekarang dikenal dengan nama Hindu Tolotang.
Penganut Towani Tolotang ini juga mengenal adanya Tuhan. Mereka lebih mengenalnya dengan nama Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa) yang bergelar PatotoE. PatotoE diakui memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, baik di dunia atas maupun dunia bawah. Dialah yang menciptakan alam raya dan seluruh isinya. Penganut Tolotang percaya bahwa manusia pertama dibumi ini sudah musnah. Adapun manusia yang hidup sekarang adalah manusia periode kedua, setelah manusia pertama musnah. Suatu ketika, PatotoE (Dewata SeuwaE) tertidur lelap. Ketiga pengikutnya yang dipercayakan menjaganya, yakni Rukkelleng, Rumma Makkapong dan Sangiang Jung, pergi mengembara ke dunia lain. Ketika mereka sampai di bumi, ketiganya melihat bahwa ada dunia kosong. Sekembalinya dari pengembaraan, ketiganya bertemu dengan PatotoE, lalu menceritakan pengalaman yang mereka saksikan, bahwa masih ada dunia yang kosong. Mereka usulkan agar diutus seseorang untuk tinggal di dunia kosog itu. Rupanya PatotoE tertarik dengan cerita tersebut. PatotoE lantas berunding dengan istrinya Datu Palinge dan seluruh pimpinan di negeri Kayangan. Setelah istrinya setuju, maka diutuslah Batara Guru turun ke bumi. Masyarakat sekarang menyebutnya Batara Guru sebagai Tomanurung. Setelah beberapa lama di bumi, Batara Guru merasa kesepian. Ia minta agar diturunkan satu manusia lagi ke bumi. Maka turunlah I Nyili Timo, putri dari Riseleang. Batara Guru kemudian kawin dengan I Nyili Timo. Hasil dari perkawinannya tersebut membuahkan seorang putra, namanya Batara Lettu. Setelah Batara Lettu dewasa, ia kemudian dikawinkan dengan Datu Sengngeng, putri dari Leurumpesai. Hasil perkawinannya melahirkan dua anak kembar, satu putra dan satu putri. Yang putra bernama Sawerigading sedangkan yang putri bernama I Tenriabeng. Tetapi hanya Sawerigading yang diakui sebagai manusia yang luar biasa, karena banyak memberikan ajaran kepahlawanan. Sawerigading kemudian kawin dengan I Cudai, salah seorang putri raja dari Cina. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak, yang bernama Lagaligo.
Pada masa Sawerigading, negeri makin aman. Penduduk sangat tunduk pada perintahnya. Setelah Sawerigading meninggal, masyarakat tambah kacau. Terjadi pertengkaran dimana-mana hingga banyak menelan korban. Peristiwa tersebut membuat Dewata SeuwaE marah. Dewata lantas menyuruh semua manusia agar kembali ke asalnya, maka terjadilah dunia kosong. Setelah sekian lama dunia kosong, PatotoE kembali mengisi manusia di bumi ini sebagai generasi kedua. Manusia yang diturunkan oleh PatotoE inilah yang akan meneruskan keyakinan yang dianut oleh Sawerigading sebelum dunia dikosongkan oleh PatotoE. Manusia periode kedua yang diturunkan Dewata PatotoE ini, tidak mengetahui betul keyakinan yang diajarkan oleh Sawerigading. Dalam keyakinan penganut Tolotang, ajaran Dewata SeuwaE itu diturunkan sebagai Wahyu. Wahyu dari Dewata selanjutnya diturunkan pada La Panaungi. La Panaungi kembali mendengar suara dari atas Kayangan : Berhentilah bekerja, terimalah ini yang saya katakana. Akulah DewataE, yang berkuasa segala-galanya. Aku akan memberikan keyakinan agar manusia selamat di dunia dan hari kemudian. Akulah Tuhanmu yang menciptakan dunia dan isinya. Keyakinan yang harus kamu anut adalah Towani. Tetapi sebelum kuberikan wahyu, bersihkanlah dirimu. Setelah wahyu ini diterima, sebarkanlah pada anak cucumu. Suara itu turun tiga kali berturut-turut. Untuk membuktikan keyakinan yang diberikan itu, DewataE kemudian membawa La Panaungi ke tanah tujuh lapis dan ke langit tujuh lapis untuk menyaksikan kekuasaan DewataE pada dua tempat, yakni Lipu Bonga, yang merupakan tempat bagi orang-orang yang mengikuti perintah DewataE menurut ajaran Toani, juga tempat orang-orang yang melanggar keyakinan Toani. Ajaran yang diterima oleh La Panaungi ini kemudian disebarkan pada penduduk, hingga banyak pengikutnya. Pokok-pokok kepercayaan Tolotang yang diajarkan adalah : Dewata SeuwaE, hari kiamat di hari kemudian (Lino Paimeng), yang menerima wahyu dari Dewata SeuwaE dan kitab suci (lontaraq). Hari kemudian terdapat di Lipu Bonga sebagai tempat orang-orang taat perintah DewataE. Ajaran Tolotang sama sekali tidak mengenal konsep neraka, nasib manusia sepenuhnya digantungkan pada Uwatta.
Dalam ajaran Tolotang, pengikutnya dituntut mengakui adanya Molalaleng yakni kewajiban yang harus dijalankan oleh pengikutnya. Kewajiban dimaksud adalah : Mappianre Inanre, yakni persembahan nasi/makanan yang dipersembahkan dalam ritus/upacara, dengan cara menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauk ke rumah uwa dan uwatta. Tudang Sipulung, yakni duduk berkumpul bersama melakukan ritus pada waktu tertentu guna meminta keselamatan pada Dewata. Sipulung, berkumpul sekali setahun untuk melaksanakan ritus tertentu di kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Biasanya dilakukan setelah panen sawah tadah hujan. Menyangkut kejadian manusia, Tolotang juga mengenal empat unsur kejadian manusia, yakni  tanah, air, api dan angin. Dalam acara ritual, keempat unsur tersebut disimbolkan pada empat jenis makanan yang lebih dikenal dengan istilah Sokko Patanrupa (nasi empat macam). Yakni nasi putih diibaratkan air, nasi merah diibaratkan api, nasi kuning diibaratkan angin dan nasi hitam diibaratkan tanah. Itulah sebabnya, setiap upacara Mappeanre atau Mappano Bulu, sesajiannya terdiri dari Sokko Patanrupa.
Sebelum La Panaungi meninggal, ia sempat berpesan untuk meneruskan ajaran yang ia terima dari DewataE dan minta agar pengikutnya berziarah ke kuburannya sekali setahun. Itulah sebabnya, kuburan La Panaungi telah banyak diziarahi pengikutnya setiap saat. Penganut agama Tolotang ini sempat berkembang, tetapi pada abad ke-16,ketika Islam berpengaruh di beberapa kerajaan di Sulawesi Selatan, jumlah penganut Tolotang tidak berubah bahkan cenderung menurun. Pada Tahun 1609, Addatuang Sidenreng, La Patiroi dan mantunya La Pakallongi, secara resmi menerima Islam sebagai agamanya dan menjadikannya sebagai agama kerajaan. Pengaruh Islam terus berkembang hingga banyak masyarakat yang tadinya menganut Hindu Tolotang beralih ke agama Islam. Hingga kini sekitar 98 % warga Sidrap memeluk agama Islam. Kekhasan budaya To Lotang Sidrap
Salah satu keunikan budaya di Kabupaten Sidrap, yakni adanya komunitas masyarakat yang akrab dipanggil dengan nama To Lotang yang umumnya berada di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe. Kelurahan ini juga merupakan salah satu pusat wilayah pemukiman To Wani atau To Lotang yang sampai hari ini tetap eksis melestarikan tradisi warisan leluhurnya secara turun-temurun dalam lingkup sistem sosial mereka. To Lotang atau To Wani merupakan istilah yang pertama kali diucapkan oleh La Patiroi, Addatuang Sidenreng VII, untuk menyebut pendatang yang berasal dari arah Selatan, yaitu Wajo. Dimana To Lotang terdiri atas 2 (dua) kata yaitu kata To (bahasa Bugis) yang berarti orang dan kata lotang yang berasal dari bahasa Bugis Sidrap yakni Lautang yang berarti Selatan. Pendatang ini terusir dari Wajo, oleh karena pada saat itu Arung Matowa Wajo telah memeluk Islam dan mewajibkan semua rakyatnya juga memeluk agama Islam. Bagi rakyatnya yang tidak mau mengikuti perintahnya, maka sebagai konsekuensinya harus meninggalkan tanah Wajo. Kemudian sekelompok masyarakat Wajo yang tidak bersedia memeluk agama Islam, dipimpin oleh I Goliga dan I Pabbere, meninggalkan tanah leluhurnya, Wajo dan hijrah ke Tanah Bugis lainnya. I Goliga akhirnya tiba di Bacukiki, Parepare dan I Pabbere sampai di Amparita yang kemudian mengadakan perjanjian Adek Mappura Onrona Sidenreng dengan La Patiroi. Akhirnya I Pabbere diberikan izin untuk menetap di Loka Popang (susah dan lapar), sebelah selatan Amparita, dengan syarat :
  1. Adat Sidenreng tetap utuh serta harus dipatuhi
  2. Keputusan harus dipelihara
  3. Janji harus ditepati
  4. Suatu keputusan yang telah berlaku harus lestarikan
  5. Agama Islam harus diagungkan dan dijalankan.
Setelah rombongan I Pabbere menetap dan bertani di Loka Popang, kemudian nama tersebut diganti dengan nama Perrinyameng, yang berarti setelah susah datanglah senang. Di tempat inilah, I Pabbere meninggal dunia yang kemudian juga dimakamkan di Perrynyameng. Dalam versi lain disebutkan bahwa pendiri Toani Tolotang adalah La Panaungi. Penganut Toani Tolotang ini mengenal adanya Tuhan. Mereka lebih mengenalnya dengan nama Dewata SeuwaE (Tuhan Yang Maha Esa) yang bergelar PatotoE. PatotoE diakui memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari manusia, baik di dunia atas maupun dunia bawah. Dialah yang menciptakan alam raya dan seluruh isinya. Penganut Tolotang percaya bahwa manusia pertama dibumi ini sudah musnah. Adapun manusia yang hidup sekarang adalah manusia periode kedua, setelah manusia pertama musnah. Diceritakan bahwa suatu ketika, PatotoE (Dewata SeuwaE) tertidur lelap. Ketiga pengikutnya yang dipercayakan menjaganya, yakni Rukkelleng, Rumma Makkapong dan Sangiang Jung, pergi mengembara ke dunia lain. Ketika mereka sampai di bumi, ketiganya melihat bahwa ada dunia kosong. Sekembalinya dari pengembaraan, ketiganya bertemu dengan PatotoE, lalu menceritakan pengalaman yang mereka saksikan, bahwa masih ada dunia yang kosong. Mereka usulkan agar diutus seseorang untuk tinggal di dunia kosog itu. Rupanya PatotoE tertarik dengan cerita tersebut. PatotoE lantas berunding dengan istrinya Datu Palinge dan seluruh pimpinan di negeri Kayangan. Setelah istrinya setuju, maka diutuslah Batara Guru turun ke bumi. Masyarakat sekarang menyebutnya Batara Guru sebagai Tomanurung. Setelah beberapa lama di bumi, Batara Guru merasa kesepian. Ia minta agar diturunkan satu manusia lagi ke bumi. Maka turunlah I Nyili Timo, putri dari Riseleang. Batara Guru kemudian kawin dengan I Nyili Timo. Hasil dari perkawinannya tersebut membuahkan seorang putra, namanya Batara Lettu. Setelah Batara Lettu dewasa, ia kemudian dikawinkan dengan Datu Sengngeng, putri dari Leurumpesai. Hasil perkawinannya melahirkan dua anak kembar, satu putra dan satu putri. Yang putra bernama Sawerigading sedangkan yang putri bernama I Tenriabeng. Tetapi hanya Sawerigading yang diakui sebagai manusia yang luar biasa, karena banyak memberikan ajaran kepahlawanan. Sawerigading kemudian kawin dengan I Cudai, salah seorang putri raja dari Cina. Hasil perkawinannya membuahkan seorang anak, yang bernama Lagaligo. Pada masa Sawerigading, negeri makin aman. Penduduk sangat tunduk pada perintahnya. Setelah Sawerigading meninggal, masyarakat tambah kacau. Terjadi pertengkaran dimana-mana hingga banyak menelan korban. Peristiwa tersebut membuat Dewata SeuwaE marah. Dewata lantas menyuruh semua manusia agar kembali ke asalnya, maka terjadilah dunia kosong. Setelah sekian lama dunia kosong, PatotoE kembali mengisi manusia di bumi ini sebagai generasi kedua. Manusia yang diturunkan oleh PatotoE inilah yang akan meneruskan keyakinan yang dianut oleh Sawerigading sebelum dunia dikosongkan oleh PatotoE.
Manusia periode kedua yang diturunkan Dewata PatotoE ini, tidak mengetahui betul keyakinan yang diajarkan oleh Sawerigading. Dalam keyakinan penganut Tolotang, ajaran Dewata SeuwaE itu diturunkan sebagai Wahyu. Wahyu dari Dewata selanjutnya diturunkan pada La Panaungi. La Panaungi kembali mendengar suara dari atas Kayangan : Berhentilah bekerja, terimalah ini yang saya katakan. Akulah DewataE, yang berkuasa segala-galanya. Aku akan memberikan keyakinan agar manusia selamat di dunia dan hari kemudian. Akulah Tuhanmu yang menciptakan dunia dan isinya. Keyakinan yang harus kamu anut adalah Toani. Tetapi sebelum kuberikan wahyu, bersihkanlah dirimu. Setelah wahyu ini diterima, sebarkanlah pada anak cucumu. Suara itu turun tiga kali berturut-turut. Untuk membuktikan keyakinan yang diberikan itu, DewataE kemudian membawa La Panaungi ke tanah tujuh lapis dan ke langit tujuh lapis untuk menyaksikan kekuasaan DewataE pada dua tempat, yakni Lipu Bonga, yang merupakan tempat bagi orang-orang yang mengikuti perintah DewataE menurut ajaran Toani, juga tempat orang-orang yang melanggar keyakinan Toani. Ajaran yang diterima oleh La Panaungi ini kemudian disebarkan pada penduduk, hingga banyak pengikutnya. Pokok-pokok kepercayaan Tolotang yang diajarkan adalah : Dewata SeuwaE, hari kiamat di hari kemudian (Lino Paimeng), yang menerima wahyu dari Dewata SeuwaE dan kitab suci (lontaraq). Hari kemudian terdapat di Lipu Bonga sebagai tempat orang-orang taat perintah DewataE. Ajaran Tolotang sama sekali tidak mengenal konsep neraka, nasib manusia sepenuhnya digantungkan pada Uwatta. Dalam ajaran Tolotang, pengikutnya dituntut mengakui adanya Molalaleng yakni kewajiban yang harus dijalankan oleh pengikutnya. Kewajiban dimaksud adalah : Mappianre Inanre, yakni persembahan nasi/makanan yang dipersembahkan dalam ritus/upacara, dengan cara menyerahkan daun sirih dan nasi lengkap dengan lauk pauk ke rumah uwa dan uwatta. Tudang Sipulung, yakni duduk berkumpul bersama melakukan ritus pada waktu tertentu guna meminta keselamatan pada Dewata. Sipulung, berkumpul sekali setahun untuk melaksanakan ritus tertentu di kuburan I Pabbere di Perrinyameng. Biasanya dilakukan setelah panen sawah tadah hujan. Menyangkut kejadian manusia, Tolotang juga mengenal empat unsur kejadian manusia, yakni tanah, air, api dan angin. Dalam acara ritual, keempat unsur tersebut disimbolkan pada empat jenis makanan yang lebih dikenal dengan istilah Sokko Patanrupa (nasi empat macam). Yakni nasi putih diibaratkan air, nasi merah diibaratkan api, nasi kuning diibaratkan angin dan nasi hitam diibaratkan tanah. Itulah sebabnya, setiap upacara Mappeanre atau Mappano Bulu, sesajiannya terdiri dari Sokko Patanrupa. Sebelum La Panaungi meninggal, ia sempat berpesan untuk meneruskan ajaran yang ia terima dari DewataE dan minta agar pengikutnya berziarah ke kuburannya sekali setahun. Itulah sebabnya, kuburan La Panaungi telah banyak diziarahi pengikutnya setiap saat. Sekitar Tahun 1964-1965, terjadi Operasi Mappakaira yang dipimpin oleh Mayor Asap Marwan, yang bertujuan untuk menghentikan tradisi masyarakat To Lotang. Operasi ini dilakukan atas permintaan kaum legislatif (DPRD) waktu itu, oleh karena ajaran To Lotang tidak diakui sebagai agama yang berhak berkembang dan To Lotang diakui hanya sebagai kebudayaan. Operasi Makkaira membuat sebagian masyarakat To Lotang masuk Islam dan sebagian lainnya tetap menjalankan tradisi nenek moyang, walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi.
Ajaran Tolotang bertumpu pada 5 (lima) keyakinan, yakni :
  1. Percaya adanya Dewata SeuwaE, yaitu keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa
  2. Percaya adanya hari kiamat yang menandai berakhirnya kehidupan di dunia
  3. Percaya adanya hari kemudian, yakni dunia kedua setelah terjadinya kiamat
  4. Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan
  5. Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci Penyembahan To Lotang kepada Dewata SeuwaE berupa penyembahan kepada batu-batuan, sumur dan kuburan nenek moyang.
Dalam masyarakat Tolotang terdapat 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok Benteng dan Kelompok To Wani To Lotang. Kedua kelompok ini memiliki tradisi yang berbeda dalam beberapa prosesi, misalnya dalam prosesi kematian dan pesta pernikahan. Bagi Kelompok Benteng, tata cara prosesi pernikahan dan kematian sama dengan tata cara dalam agama Islam. Sedangkan tata cara kematian kelompok To Wani To Lotang berupa pemandian jenazah yang kemudian dibungkus dan dilapisi dengan menggunakan daun Sirih. Untuk prosesi pernikahan Kelompok To Wani To Lotang dilaksanakan di hadapan Uwatta, yakni pemimpin ritual yang masih merupakan keturunan langsung dari pendiri To Wani To Lotang. Bagi Kelompok To Wani To Lotang, ritual Sipulung yang dilaksanakan sekali dalam setahun mengambil tempat di Perrynyameng yang merupakan lokasi kuburan I Pabbere. Pada waktu tersebut masyarakat To Wani To Lotang membawa sesajian berupa nasi dan lauk pauk yang diyakini merupakan bekal di hari kemudian. Dimana semakin banyak sesajian yang dibawa, maka semakin banyak pula bekal yang akan dinikmati di hari kemudian.
Bagi Kelompok Benteng, ritual Sipulung dilaksanakan di sumur PakkawaruE, dimana pada siang hari masyarakat berkumpul di kediaman Uwatta dan barulah pada malam hari melaksanakan prosesi Sipulung. Prosesi Sipulung berupa pembacaan lontaraq oleh Uwatta, dimana masyarakat yang hadir pada saat itu memberikan daun Sirih dan Pinang kepada Uwatta. Upacara Adat To Lotang dilakukan oleh masyarakat To Lotang yang dilaksanakan di Bulu (Gunung) Lowa, berada di poros Kota Pangakajene dengan Kota Soppeng dan terletak di Amparita Kecamatan Tellu Limpoe. Daerah ini merupakan lokasi upacara adat Perrynyameng. Ritual tersebut dilakukan sekali setahun (Bulan Januari), dengan waktu pelaksanaan harus dimusyawarahkan oleh tokoh-tokoh (Uwa) Tolotang. Ritual adat dilaksanakan karena adanya pesan dari Perrinyameng. Apabila telah menghembuskan napas terakhirnya maka anak cucunya harus datang menziarahinya sekali setahun. Penyiraman minyak bau (berbau harum) oleh Uwa, atraksi Massempe (permainan adu kekuatan kaki). Semua pengikut sealiran dari berbagai desa/kota berkumpul dengan berpakaian serba putih-putih, sarung dan tutup kepala (kopiah hitam) untuk para laki-laki, sedangkan untuk perempuan mengenakan pakaian seperti kebaya. Pada saat ritual upacara, mereka duduk bersila di atas tikar tradisional dengan penuh hikmat dan keheningan serta konsentrasi pemusatan jiwa dan raga kepada sang pencipta (Dewata SeuwaE). Selanjutnya dilanjutkan dengan penyembahan oleh Uwa, ditandai dengan penyiraman minyak bau (minyak berbau wangi-wangian) pada batu leluhur yang sangat disakralkan, kemudian dilanjutkan kegiatan Massempe. Jarak lokasi upacara adat dengan Kota Pangkajene sebagai ibukota kabupaten sekitar 7 Km. Dalam konteks budaya To Lotang, mereka sangat menghormati makam tua Pammasetau. Makam Tua Pammasetau merupakan makam bagi ummat kepercayaan To Lotang yang dijadikan sebagai tempat ritual dan penyembelihan hewan untuk maksud-maksud tertentu (nazar). Pada umumnya kuburan yang ada batu nisannya masih berupa batu alami (batu sungai) yang bentuknya besar-besar. Makam ini terletak di Desa Cenrana Kecamatan Panca Lautang. Jarak dari Kota Pangkajene sekitar 28 Km dan untuk sampai ke lokasi makam telah dibangun jalan pengerasan dari jalan poros Kota Pangkajene dengan Kota Soppeng. Untuk sampai ke lokasi makam dengan menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat.
»»  LANJUT BOS......

Pakaian Adat Bugis : Kriteria Baju Bodo Berdasarkan Warna

Baju bodo, kita tentu sudah familiar dengan pakaian adat yang satu ini. Baju bodo merupakan pakaian adat masyarakat Bugis-Makassar, terdiri dari berbagai macam warna yang dikenakan oleh perempuan utamanya dalam acara-acara adat seperti acara pengantin dan acara-acara adat yang lain. Tapi sudah tahu belum kalau ternyata perempuan yang memakai baju bodo ini tidak asal memilih warna.
Menurut  orang-orang tua kita, dahulu kala ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo ini. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
  1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
  2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
  3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
  4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
  5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
  6. Warna ungu dipakai oleh para janda.
Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, utamanya pada pesta pernikahan. Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman. Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busana yang lebih simpel dan mengikuti trend. Meskipun demikian, di daerah-daerah tertentu atau kampung-kampung bugis di luar kota yang jauh dari pengaruh budaya luar, baju bodo masih banyak dikenakan untuk acara-acara pernikahan dan acara-acara lain. Baju bodo juga tetap dikenakan oleh mempelai perempuan dalam resepsi pernikahan ataupun akad nikah. Begitu pula untuk passappi’-nya (Pendamping mempelai, biasanya anak-anak). Juga digunakan oleh pagar ayu.
»»  LANJUT BOS......

Tahapan Upacara Kematian dalam Adat Bugis

Dari sekian banyak upacara adat yang dilaksanakan di kampung-kampung Bugis terdapat satu upacara adat yang disebut Ammateang atau Upacara Adat Kematian yang dalam adat Bugis merupakan upacara yang dilaksanakan masyarakat Bugis saat seseorang dalam suatu kampung meninggal dunia.
Keluarga, kerabat dekat maupun kerabat jauh, juga masyarakat sekitar lingkungan rumah orang yang meninggal itu berbondong-bondong menjenguknya. Pelayat yang hadir biasanya membawa sidekka (sumbangan kepada keluarga yang ditinggalkan) berupa barang atau kebutuhan untuk mengurus mayat, selain itu ada juga yang membawa passolo (amplop berisi uang sebagai tanda turut berduka cita). Mayat belum mulai diurus seperti dimandikan dan seterusnya sebelum semua anggota terdekatnya hadir. Barulah setelah semua keluarga terdekatnya hadir, mayat mulai dimandikan, yang umumnya dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memang biasa memandikan mayat atau oleh anggota keluarganya sendiri.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika memandikan mayat, yaitu mabbolo (menyiramkan air ke tubuh mayat diiringi pembacaan do’a dan tahlil), maggoso’ (menggosok bagian-bagian tubuh mayat), mangojo (membersihkan anus dan kemaluan mayat yang biasa dilakukan oleh salah seorang anggota keluarga seperti anak,adik atau oleh orang tuanya) dan mappajjenne’ (menyiramkan air mandi terakhir sekaligus mewudhukan mayat). Orang -orang yang bertugas tersebut diberikan pappasidekka (sedekah) berupa pakaian si mayat ketika hidupnya lengkap dengan sarung, baju, celana, dan lain sebagainya. Mayat yang telah selesai dimandikan kemudian dikafani dengan kain kaci (kain kafan) oleh keluarga terdekatnya. Setelah itu imam dan beberapa pengikutnya menyembahyangkan mayat menurut aturan Islam. Sementara diluar rumah, anggota keluarganya membuat ulereng (usungan mayat) untuk golongan tau samara (orang kebanyakan) atau Walasuji (untuk golongan bangsawan) yang terbentuk 3 susun. Bersamaan dengan pembuatan ulereng, dibuat pula cekko-cekko, yaitu semacam tudungan yang berbentuk lengkungan panjang sepanjang liang lahat yang akan diletakan diatas timbunan liang lahat apabila jenazahnya telah dikuburkan. Dan apabila, semua tata cara keislaman telah selesai dilakukan dari mulai memandikan, mengafani, dan menyembahyangkan mayat, maka jenazahpun diusung oleh beberapa orang keluar rumah lalu diletakan diatas ulereng.
Tata cara membawa usungan atau ulureng ini terbilang unik. Ulereng diangkat keatas kemudian diturunkan lagi sambil melangkah ke depan, ini diulangi hingga 3 kali berturut-turut, barulah kemudian dilanjutkan dengan perlahan menuju ke pekuburan diikuti rombongan pengantar dan pelayat mayat. Iring-iringan pengantar jenazah bisa berganti-gantian mengusung ulereng. Semua orang-orang yang berpapasan dengan iringan pengantar jenazah harus berhenti, sedangkan orang-orang yang berjalan/berkendara dari belakang tidak boleh mendahului rombongan pengantar jenazah hingga sampai di areal pekuburan. Di pekuburan, sudah menanti beberapa orang yang akan bekerja membantu penguburan jenazah. Sesampai di kuburan, mayat segera diturunkan kedalam liang lahat. Imam atau tokoh masyarakat kemudian meletakkan segenggam tanah yang telah dibacakan doa atau mantera-mantera ke wajah jenazah sebagai tanda siame’ (penyatuan) antara tanah dengan mayat.setelah itu, mayat mulai ditimbuni tanah sampai selesai. Lalu Imam membacakan talkin dan tahlil dengan maksud agar si mayat dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat penjaga kubur dengan lancar. Diatas pusara diletakan buah kelapa yang telah dibelah 2 dan tetap ditinggalkan diatas kuburan itu. Diletakan pula payung dan cekko-cekko’. Hal ini juga masih merupakan warisan kepercayaan lama orang Bugis Makassar, bahwa meskipun seseorang telah meninggal dunia, akan tetapi arwahnya masih tetap berkeliaran. Karena itu, kelapa dan airnya yang diletakan diatas kuburan dimaksudkan sebagai minuman bagi arwah orang yang telah meninggal, sedangkan payung selain untuk melindungi rohnya, juga merupakan simbol keturunan.
Sekarang ini, ada kebiasaan baru setelah jenazah dikuburkan, yaitu imam atau ustadz dipesankan oleh keluarga orang yang sudah meninggal itu agar melanjutkan dengan ceramah dikuburan sebelum rombongan/pelayat pulang dari kuburan. Ceramah atau pesan-pesan agama yang umumnya disampaikan sekaitan dengan kematian dan persiapan menghadapi kematian, bahwa kematian itu pasti akan menemui/dihadapi setiap orang didunia ini dan karenanya, supaya mendapatkan keselamatan dari siksa alam kubur serta mendapatkan kebahagian didunia maupun di akherat, maka seseorang harus mengisi hari-hari kehidupannya dengan berbuat baik dan amal kebajikan sebanyak mungkin. Sebelum rombongan pengiring mayat pulang,biasanya pihak keluarga terdekat menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus penyampaian undangan takziah. Semalaman, di rumah duka diadakan tahlilan dan khatam Al-Quran, yaitu membaca al-Quran secara bergantian. Dari sini mulainya bilampenni, yaitu upacara selamatan sekaligus penghitungan hari kematian yang dihitung mulai dari hari penguburan jenazah.Biasa dalakukan selamatan tujuh hari atau empat puluh harinya. Sekarang ini, upacara bilampenni sudah bergeser namanya menjadi tiga malam saja. Sebagai penutup, pada esok harinya dilakukan dzikir barzanji dan dilanjutkan santap siang bersama kerabat-kerabat yang di undang.
Dalam adat bugis, apabila salah seseorang meninggal dunia maka beberapa hari kemudian, biasanya pada hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, hari keseratus atau kapanpun keluarga jenazah mampu dilaksanakan satu upacara adat yang disebut mattampung, dalam upacara adat ini dilakukan penyembilan sapi. Upacara adat mattampung akan dibahas khusus di artikel kampung bugis selanjutnya.
»»  LANJUT BOS......

Sejarah Usman Balo


Usman Balo (1991)
Usman Balo adalah salah seorang tokoh pejuang kemerdekaan di Sulawesi Selatan. Selain karena keberaniannya dalam melawan penjajah, Usman Balo juga terkenal karena memiliki 108 orang isteri, meskipun demikian, Usman Balo punya prinsip yang patut diteladani, beliau sangat pantang bercinta atau menggauli wanita jika belum ia nikahi.
Pada jamannya, Usman Balo sangat disegani dan ditakuti baik oleh sesama pejuang ataupun oleh kompeni Belanda. Saat itu banyak desa yang diobrak-abrik oleh penjajah, namun desa-desa dimana terdapat keluarga korban tidak pernah disinggahi oleh penjajah. Dengan alasan tersebut almarhum mulai menikahi gadis-gadis hampir di setiap desa. Usman Balo meninggalkan 26 orang anak, dan lebih 100 orang cucu serta puluhan orang cicit.
Pejuang kharismatik ini dikenal berani, teguh dan penuh dedikasi serta pantang menyerah dan menyandang pangkat terakhir Kapten TNI AD. Pria berjuluk ‘Balo’na Sidenreng’ ini menyandang sejumlah piagam tanda jasa. Almarhum adalah rekan seperjuangan tokoh Sulsel lainnya Brigjen TNI (Purn) Andi Sose, dan mantan Gubernur Sulsel Brigjen TNI (Purn) Andi Oddang.
Usman Balo pernah memperjuangkan terbentuknya Republik Persatuan Indonesia, terdiri dari beberapa negara bagian. Tapi, lantaran Bung Karno lebih menghendaki negara kesatuan,akhirnya perjuangan Usman Balo menghadapi rintangan. Itulah yang membuatnya bergerilya bertahun-tahun di hutan, bersama Kolonel Abdul Kahar Muzakkar dan membentuk kelompok perjuangan Tentara Islam Indonesia atau yang sekarang dikenal dengan Pemberontakan DI/TII. Pembagian wilayah kekuasaan antara kesatuan-kesatuan DI/TII Sulawesi Selatan, ternyata menimbulkan pertentangan intern. Seringkali, akibat operasi yang dilancarkan TNI, pasukan yang satu memasuki wilayah kekuasaan pasukan yang lain. Bulan Desember 1952, Batalyon Latimojong pimpinan Usman Balo memasuki wilayah Batalyon Rante Mario. Antara kedua pasukan itu terjadi bentrokan fisik. Kahar Muzakkar menyalahkan Usman Balo. Akibatnya hubungan antara kedua tokoh pemberontak itu mulai retak. Dalam perkembangan kemudian Usman Balo memutuskan sama sekali hubungannya dengan Kahar, walaupun ia tetap melanjutkan pemberontakannya. Kemudian pertentangan itu meningkat menjadi pertentangan ideologis. Usman Balo menolak jalan Darul Islam yang dianut Kahar, dan tidak bersedia mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam seperti yang dilakukan Kahar sejak bulan Agustus 1953. Pertentangan antara keduanya mencapai puncaknya dalam bentuk pertempuran terbuka di Bulu Cenrana (Sidenreng Rappang). Pertempuran terjadi tanggal 14 Desember 1954 dan berlangsung selama tiga hari.
Usman Balo wafat pada tanggal 5 Mei 2006 di usia 88 tahun karena sakit asma di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Mario Rappang, Sidrap.
»»  LANJUT BOS......

Asal Usul Gelar Andi pada Bangsawan Bugis

Asal-usul gelar andi yang disematkan di depan nama bangsawan bugis memang menjadi pertanyaan banyak orang. Bermacam-macam pendapat dari para sejarawan ataupun cerita orang-orang tua dulu tentang awal mula munculnya gelar andi di dalam masyarakat bugis, namun belum ada yang dapat menunjukkan bukti atau sumber yang benar-benar dapat dijadikan rujukan mutlak.
Dari beberapa sumber yang kami dapatkan, maka dapat diuraikan secara singkat tentang penggunaan nama Andi sebagai gelar yang digunakan para bangsawan Bugis.
Sebutan “Andi” adalah sebutan alur kebangsawanan yang diwariskan hasil genetis (keturunan) Lapatau, pasca Bugis merdeka dari orang Gowa.” Andi” ini dimulai ketika 24 Januari 1713 dipakai sebagai extention untuk semua keturunan hasil perkawinan Lapatau dengan putri Raja Bone sejati, Lapatau dengan putri Raja Luwu (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri raja Wajo (yang bersekutu dengan kerajaan Gowa), Lapatau dengan putri Sultan Hasanuddin (Sombayya Gowa), Anak dan cucu Lapatau dengan putri Raja Suppa dan Tiroang. Anak dan cucu Lapatau dengan putri raja sejumlah kerajaan kecil yang berdaulat di Celebes.
Perkawinan tersebut sebagai upaya VOC untuk membangun dan mengendalikan sosiologi baru di Celebes. Dan dengan alasan ini pula maka semua bangsawan laki-laki yang potensial pasca perjanjian bungaya, yang extrim dikejar sampai ke pelosok nusantara dan yang softly diminta tinggalkan bumi sawerigading (Celebes).
Siapa yang pungkiri kalau (Alm) Jendral Muhammad Yusuf adalah bangsawan Bugis, tetapi beliau enggan memakai produk exlusivisme buatan VOC. Beliau sejatinya orang Bugis genetis sang Sawerigading. Siapa pula yang pungkiri bahwa Yusuf Kalla adalah bangsawan Bugis tetapi beliau tidak memakai gelar “Andi” karena bukan keturunan langsung Lapatau.
Dalam versi lain, walaupun kebenaraannya masih dipertanyakaan selain karena belum ditemukan catatan secara tertulis dalam “Lontara” tetapi ada baiknya juga dipaparkan sebagai salah satu referensi penggunaan nama “Andi” tersebut. Di era pemerintahan La Pawawoi Karaeng Sigeri hubungan Bone dan VOC penuh dengan ketegangan dan berakhir dengan istilah “Rompana Bone“. Dalam menghadapi Belanda dibentuklah pasukan khas yaitu pasukan “Anre Guru Ana’ Karung” yang di pimpin sendiri Petta Ponggawae. Dalam pasukan tersebut tidak di batasi hanya kepada anak-anak Arung (bangsawan) saja tetapi juga kepada anak-anak muda tanggung yang orangtuanya mempunyai kedudukan di daerah masing-masing seperti anak pabbicara’e, salewatang dan lain-lain, bahkan ada dari masyarakat to meredaka. Mereka mempunyai ilmu sebagai “Bakka Lolo dan Manu Ketti-ketti“. Anggota pasukan tersebut disapa dengan gelaran “Andi” sebagai keluarga muda angkat Raja Bone yang rela mati demi patettong’ngi alebbirenna Puanna (menegakkan kehormatan rajanya).
Menurut cerita orang-orang tua Bone, Petta Imam Poke saat menerima tamu yang mamakai gelaran “Andi” atau “Petta” dari daerah khusus Bone maka yang pertama ditanyakan “Nigatu Wija idi’ Baco/Baso? (anda keturunan siapa Baso/Baco?). Baso/Baco adalah sapaan untuk anak laki-laki. Jika mereka menjawab “Iyye, iyya atanna Petta Pole (saya adalah hambanya Petta Pole)”, maka Petta Imam Poke mengatakan “Koki tudang ana baco/baso” (duduklah disamping saya) sambil menunjukkan dekat tempat duduknya, maka nyatalah bahwa “Andi” mereka pakai memang keturunan bangsawan pattola, cera dan rajeng, tetapi kalau jawaban Petta mengatakan “oohh, enreki mai ana baco” sambil menunjukkan tempat duduk di ruang tamu maka nyatalah “Andi” mereka pakai karena geleran bagi anak ponggawa kampong (panglima) atau ana to maredeka yang pernah ikut dalam pasukan khas tersebut.
Dalam versi yang hampir sama, gelar “Andi” pertama kali digunakan oleh Raja Bone ke-30 dan ke-32 La Mappanyukki, beliau adalah Putra Raja Gowa dan Putri Raja Bone. Gelar itu disematkan didepan nama beliau pada Tahun 1930 atas Pengaruh Belanda. Gelar Andi tersebut bertujuan untuk menandai Bangsawan-bangsawan yang berada dipihak Belanda, dan ketika melihat berbagai keuntungan dan kemudahan yang diperoleh bagi Bangsawan yang memakai gelar “Andi” didepan namanya, akhirnya setahun kemudian secara serentak seluruh Raja-Raja yang berada di Sulawesi Selatan menggunakan Gelar tersebut didepan namanya masing-masing.
Kelihatannya kita harus membuka lontara antara era pemerintahan La Tenri Tatta Petta To Ri Sompa’e sampai La Mappanyukki khususnya versi Bone karena era itulah terjadi jalinan kerja sama maupun perseteruan antara Raja-Raja di celebes dengan VOC, selain itu orang yang bersangkutan menyaksikan awal penggunaan secara meluas bagi Ana’ Arung juga semakin sukar dicari alias sudah banyak yang berpulang ke Rahmatullah, salah satu pakar yang begitu arif tentang masalah ini adalah Almahrum Tau Ri Passalama’e Anre Gurutta H.A.Poke Ibni Mappabengga (Mantan imam besar mesjid Raya Bone)…
Gelar Andi, menurut Susan Millar dalam bukunya ‘Bugis Weddings’ (telah diterbitkan oleh Ininnawa berjudul (Perkawinan Bugis) disinggung bagaimana proses lahirnya gelar Andi itu. Memang, seperti yang disinggung di atas, saat itu Pemerintah Belanda di tahun 1910-1920an ingin memperbaiki hubungan dengan para bangsawan Bugis dengan membebaskan keturunan bangsawan dari kerja paksa. Saat itu muncul masalah bagaimana menentukan seorang berdarah bangsawan atau tidak. Akibatnya, berbondong-bondonglah warga mendatangi raja dan menegosiasikan diri mereka untuk diakui sebagai bangsawan, karena rumitnya proses itu maka dibuatlah sebuah gelar baru untuk menentukan kebangsawanan seseorang dengan derajat yang lebih rendah. di pakailah kata Andi untuk menunjukkan kebangsawanan seseorang dalam bentuk sertifikat (mungkin sejenis sertifikat yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan telah lulus dalam kursus montir mobil atau sejenisnya).
Penggunaan Andi saat itu juga beragam di setiap kerajaan. Soppeng misalnya hanya menetapkan bahwa gelar Andi adalah bangsawan pada derajat keturunan ketiga, sementara Wajo dan Bone hingga keturunan ketujuh.
Dari sumber berikutnya dapat kami uraikan sebagai berikut. Gelar Kebangsawanan “Datu” adalah gelar yang sudah ada sejak adanya kerajaan Bugis, di Luwu misalnya, semua raja bergelar Datu, dan Datu yang berprestasi bergelar Pajung, jadi tidak semua yang bergelar Datu disebung Pajung. Sama halnya di Bone, semua raja bergelar Arung, tapi tidak semua Arung bergelar Mangkau, hanya arung yang berprestasi bergelar Mangkau. Begitu juga di Makassar atau Gowa, semua bangsawan atau raja-raja bergelar Karaeng, hanya yang menjadi raja di Gowa yang bergelar Sombaiya.
Gelar kebangsawanan lainnya, mengikut kepada pemerintahan atau panggaderen di bawahnya, seperti Sulewatang, Arung, Petta, dan lain-lain. Jadi gelar itu mengikut terhadap jabatan yang didudukinya. Sementara untuk keturunannya yang membuktikan sebagai keturunan bangsawan, di Makassar dipanggil Karaeng. sedang di Bugis dipanggil Puang, dan di Luwu dipanggil Opu.
Adapun gelar Andi, pertama-tama yang menggunakannya adalah Andi Mattalatta untuk membedakan antara pelajar dari turunan bangsawan dan rakyat biasa. Dan gelar Andi inilah yang diikuti oleh turunan bangsawan Luwu, dan Makassar. Jadi di zaman Andi Mattalattalah gelar ini muncul.
Gelar “Andi” baru ada setelah era Pemerintah Kolonial Belanda (PKB). Setelah 1905, Sulawesi Selatan benar-benar ditaklukkan Belanda dan terjadi kekosongan kepemimpinan lokal. Tahun 1920-1930an PKB mencanangkan membentuk Zelf Beestuur (Pemerintah Pribumi/Swapraja) yang dibawahi oleh Controleur (Pejabat Belanda) untuk Onder Afdeling. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, jika memang Andi diidentikan dengan Belanda, mengapa pejuang kemerdekaan (Datu Luwu Andi Jemma, Arumpone, Andi Mappanyukki, Ranreng Tuwa Wajo Andi Ninnong) tetap memakai gelar Andi didepan namanya sementara mereka justru menolak dijajah? tapi juga harus diakui bahwa ada juga yang berinisial Andi yang tunduk patuh pada PKB. Nah ini yang kita harus bijak menilai antara gelar dan pilihan personal terhadap kemerdekaan/penjajahan.
Secara umum Bangsawan Bugis berasal dari pemimpin-pemimpin anang/kampung/wanua sebelum datangnya To Manurung/To Tompo. Pimpinan-pimpinan kampung ini yang selanjutnya disebut kalula/arung dengan nama alias/gelar berbeda-beda yang disesuaikan dengan nama kampung/kondisi/perilaku bersangkutan yang dia peroleh melalui pengangkatan/pelantikan oleh sekelompok anang/masyarakat maupun secara kekerasan (peperangan bersenjata) yang selanjutnya diwariskan secara turun-temurun kepada ahli warisnya, kecuali jika dikemudian hari ternyata dia ditaklukkan dan diganti oleh penguasa yang lebih tinggi/kuat.
Sedangkan To Manurung dan To Tompo yang, ‘asal usul’ dan ‘namanya’ kadang-kadang tidak diketahui dan segala kelebihan-kelebihan dan kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, oleh sekelompok pimpinan kalula/arung/matoa sepakat untuk mengangkatnya menjadi ketua kelompok dikalangan kalula/arung yang selanjutnya menjadi penguasa/raja yang berarti pula pondasi dasar sebuah kerajaan/negara telah terbentuk –dimana tanah/wilayah, pemimpin/penguasa dan pengakuan dari segenap rakyat sudah terpenuhi.
Penguasa/Raja biasanya kawin dengan sesama To Manurung/To Tompo [jika dia 'ada'/muncul tanpa didampingi pasangannya] dan pada tahap awal cenderung mengawinkan anak-anaknya dengan bangsawan lokal yang sudah ada sebelumnya. Ketika kerajaan-kerajaan kecil tadi dalam perkembangannya menjadi kerajaan besar, barulah perkawainan anak antar-kerajaan mulai diterapkan oleh Arung Palakka
FATIMAH BANRI (WE BANRI GAU)
(1871 – 1895)

We Fatimah Banri atau We Banri Gau Arung Timurung menggantikan ayahnya Singkeru’ Rukka Arung Palakka menjadi Mangkau’ di Bone. Dalam khutbah Jumat namanya disebut sebagai Sultanah Fatimah dan digelarlah We Fatimah Banri Datu Citta. Pada tahun 1879 M. kawin dengan sepupu satu kalinya yang bernama La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo, anak dari We Pada Daeng Malele Arung Berru dengan suaminya I Malingkaang KaraengE ri Gowa.
Yang menjadi tanda tanya adalah :
  1. Apakah sebelum La Magguliga Andi Bangkung Karaeng Popo masih ada juga yang menggunakan nama/gelar itu sebelumnya?
  2. Mengapa kata ‘Andi’ yg digunakan/disepakati sebagai penandaan gelar bagi kaum bangsawan Sulawesi Selatan pada saat itu sampai dengan sekarang? Kenapa bukan Karaeng atau Raden atau Uwak atau dan lain-lain?
Urgensi tata cara pandangan dalam asal-usul Andi itu sebenarnya karena tata cara pandang tergantung nara sumber data yang dimilki.
Perbedaan dapat kita lihat sebagai berikut yaitu :
Apabila yg memakai data dari sytem pemerintahan yang pada proses pendudukan Belanda mungkin ada benarnya bahwa Andi adalah pemberian Belanda, tapi ini akan menimbulkan pertanyaan yaitu : Apakah pemberian nama Andi dimana posisi bangsawan saat itu gampang dan mudah melihat yang mana pro dan anti terhadap Belanda karena baik pro dan anti Belanda semuanya menyandang gelar itu?, lalu apakah contoh yang paling mudah ketika Andi Mappanyukki sebagai tokoh yg mempopulerkan nama Andi merupakan orang anti Belanda?
Dari pertanyaan diatas dapat disimpulkan sementara bahwa kata asal-usul nama Andi adalah pemberian Belanda telah gugur.
Apabila data yang mengacu karena istilah penghormatan dari masyarakat luar Bugis atau akhirnya digunakan oleh Belanda terhadap bangsawan Bugis dianggap karena sama sederajat juga ada benarnya dimana yang dulunya istilah Adik adalah Andri menjadi Andi itu sangat relevan karena contoh sangat konkrit adalah sosok Andi Mappanyukki pada sejarah Kronik Van Paser yang namanya disebut hanya La Mappanyukki saja, namun karena banyaknya tetua Bangsawan Wajo hidup di Paser saat itu hingga mengatakan Andri sehingga masyarakat suku-suku Paser, Kutai dayak hingga Banjar sulit menyebutkan dan menyebabkan penyebutan menjadi Andi saja, hal yang sama ketika salah satu Ibukota Kerajan Kutai diberikan nama oleh masyarakat Bugis yang bernama Tangga Arung namun sulit penyebutannya oleh masyarakat setempat menjadi Tenggarong.
Ini juga menjadi data akurat bahwa nama Andi adalah aktualisasi perubahan dari Andri yang tidak bisa diucapkan dan akhrinya masuk ke wilayah orang Belanda dimana orang-orang bule baik Belanda, Portugis hingga Inggris sulit menyebut huruf “R”.
Data yg paling cukup kuat adalah bila suatu kampung (Wanua, Limpo) yang hampir seluruhnya didiami oleh keturunan bangsawan dimana semuanya sejajar ketika dikampung mereka hanya disebut La Nu dan hanya namanya La Nu tapi pada saat dia keluar secara otomatis masyarakat luar melekatkan nama Andi didepannya.menajdi Andi Nu (sebenarnya banyak tokoh di abad ke 18 telah diberi nama Andi sebelum Andi Mappanyukki).
Dari beberapa uraian yang dipaparkan di atas mungkin sulit untuk mengambil kesimpulan asal-usul gelar “Andi” bagi bangsawan bugis, namun yang terpenting adalah dengan membaca beberapa referensi setidaknya kita dapat menambah wawasan kita tentang sejarah Bugis.
»»  LANJUT BOS......

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...